Sabtu, 01 Oktober 2016

Quotation of Baver

Quotation of 'baver'. Baver adalah plesetan dari kata slang 'baper' yang sering diartikan bawa perasaan atau perasaan seseorang akan sangat sensitif ketika mengetahui sesuatu. Dan mbak memutuskan untuk memakai ini untuk judul postingan bertema kata bijak ini. Sila pilah yang mana sesuai dengan kondisimu saat ini. Hehe..
Aku telah banyak menikmati tawa. Namun, yang paling renyah hanya tawa saat kamu menikmati dirimu sendiri. Sebab aku pun tertawa karenanya. -Maret 2016-
Aku pernah ingin pergi jauh. Sejauh mungkin. Seasing mungkin. Seketika itu pula aku ingin aku bertemu denganmu sebagai orang asing. Lalu, kita sama-sama jatuh hati. -Maret 2016-
 Apalah aku yang hanya tahu kebersamaan yang kau tawarkan lewat nyanyian-nyanyian riang dan terkadang menyayat. Tapi masih tak kutemui maksud lain selain rindu ingin menyapa. -Maret 2016 ditujukan untuk Taylor Swift- (mbak ngefan banget sama doi)
Orang bilang, semakin akrab manusia semakin mereka bosan satu sama lain. Entah kenapa pepatah itu juga berlaku padaku. Aku tak pernah bosan padamu. Karena kita memang tak pernah akrab. -May 2016-
Banyak orang yang hilir mudik di hidup kita. Hanya satu dua yangbersedia menetap, memberikan memori-memori manis. Selebihnya hanya singgah, sebagian menancapkan luka, dan lainnya terlupa. -May 2016-
Ada kalanya kamu ingin mengutuk waktu. Ingin kembali ketika segalanya berjalan sempurna. Ketika.segalanya terasa mudah meski terlihat susah. Bukan terlihat mudah namun terasa susah. -May 2016-
Dari dekat cahyamu terlampau menyilaukan. Membuat aku semakin rindu. Karenanya aku pilih mengamatimu saja. Dari jauh. - Oktober 2016-
(akan di-update terus)

Semoga Kau Sukses dengan Impian Kita: Saatnya Kau Harus Berhenti part 2



Dua insan yang sedang merajut kasih pasti merencanakan hal-hal indah di masa depan. Menikah di sebuah tempat bernuansa romantis, memiliki rumah idaman dan anak-anak yang lucu. Betapa bahagianya menyatukan dua keluarga besar melalui sebuah ikatan cinta. Atau bagi sebagian yang masih berstatus pelajar pasti ingin melanjutkan kuliah di tempat yang sama, atau setidaknya di kota yang sama. Bagi yang berstatus mahasiswa apalagi kuliah di jurusan yang sama, pasti menginginkan target-target pendek seperti lulus bareng.

Namun, apa jadinya bila semua itu tak sesuai rencana? Aku atau kalian yang sudah bersusah payah berjuang menjaga hubungan, tetapi dia menginginkan sebaliknya. Dia tak lagi sejalan dengan kehendak kita.

Bagiku yang tak pernah secara langsung menawarkan rencana-rencana besarku terhadapmu. Aku bisa melihat dengan jelas. Ada sesuatu yang kita pernah ingin wujudkan berdua. Hanya berdua saja.

Masa-masa sulit saat ku harus lalui tanpamu. Aku masih mempertahankan impian kita. Kuyakin kelak semua akan terbayar nantinya. Tak apa ku berjuang sendirian. Melanjutkan impian yang masih bisa kugapai seorang diri. Dan bila kau juga masih memikirkan impian kita dulu, semoga kau sukses dengan itu meski ku tahu bukan lagi denganku kau memperjuangkannya. Aku akan turut bahagia. Semoga kau juga, dear pembaca. Lanjutkan mimpimu. Entah menampakinya sendirian atau masih bersama bayang-bayang dia, yang terlihat namun tak pernah ada. Semoga kau ikhlas menjalaninya.

  Mbak Ami - 2016/09/16

Saatnya Kau Harus Berhenti part 1



Saat bagiku senyummu terasa bagai genggaman erat seorang yang lebih dari kawan. Genggaman yang seaakan tak mau membiarkannya lepas dari kedua bola mataku. Dan candamu terasa lebih dari sebuah pelukan. Saat itu aku mulai merasakan kurindukanmu bahkan saat kau ada di depanku.

Berawal dari sebuah pertemuan di empat lantai penuh rak-rak buku yang aku tak sepenuhnya paham apa yang ada di dalamnya. Di antara jejak-jejak kaki itu kita selipkan awal percakapan kita sebagai seorang rekan. Seiring berjalannya waktu, aku tak lebih menganggapmu sebagai seorang rekan. Ya, seperjuangan untuk empat tahun yang penuh lika-liku dan tentu berwarna.

Entah mengapa kehadiranmu adalah saat yang tepat. Kamu memenuhi ingatanku saat ia terasa benar-benar kosong. Bahkan saat ku sudah lama mengenalmu, aku belum merasakan apa-apa. Setelah kurasakan beberapa momen patah hati dan luka, kamu belum begitu memenuhi kepalaku. Kamu adalah saat yang tertepat sejauh ini. Bukan karena aku membutuhkan memikirkan seseorang. Tapi, kamu memenuhi pikiran dan ya hatiku saat aku benar-benar ingin memikirkanmu.

Sejauh aku mengenalmu, tak banyak yang bisa aku jelaskan. Cukup pertemuan singkat di antara bangku-bangku putih itu. Kadang aku menatapmu penuh lamat. Namun, aku segera membuang pikiranku yang semakin lama semakin penuh olehmu. Begitu terus sampai aku tak sadar semakin lama aku semakin memendam perasaan itu. Sendiri.

Aku terlalu sibuk dengan pikiranku tentangmu. Tanpa mau tahu apa yang ada di pikiranmu. Aku terlalu menikmati rindu-rindu yang menyambangi malam-malamku. Rindu tentangmu yang selalu datang saat langit menurunkan hujannya. Benar memang hujan adalah cara terbaik mendatangkan ingatan. Apalagi ingatan tentangmu yang menurutku segalanya perlu dikenang. Bahkan untuk hal kecil sekalipun.

Aku pikir aku semakin gila dengan pikiranku yang penuh tentangmu. Bodohnya aku yang sampai detik ini tak bernyali mengutarakannya. Tentu aku tak sebegitu bodoh. Aku begini karena ku nilai sikapmu padaku hanya begitu-begitu saja. Tak lebih dari seorang rekan. Berulangkali aku berniat mengutarakan. Namun, niat hanya sebatas niat yang berujung pengharapan kau akan merasakan apa yang aku rasakan.

'Kau harus berhenti'. Belakangan ini dalam hatiku berteriak kencang. Bukan karena ku sudah tak ada rasa. Hanya aku harus berhenti menyanggupi penat berjuang dalam diam sendiri. Mungkin lebih baik aku simpan dulu rapat-rapat perasaanku ini. Untuk suatu saat aku akan membukanya kembali atau membuangnya jikalau tak kutemukan cara untuk mengungkitnya lagi.

-Mbak Ami, di antara gema takbir dan sendu pagi, 2016/09/12-