Sabtu, 01 Oktober 2016

Saatnya Kau Harus Berhenti part 1



Saat bagiku senyummu terasa bagai genggaman erat seorang yang lebih dari kawan. Genggaman yang seaakan tak mau membiarkannya lepas dari kedua bola mataku. Dan candamu terasa lebih dari sebuah pelukan. Saat itu aku mulai merasakan kurindukanmu bahkan saat kau ada di depanku.

Berawal dari sebuah pertemuan di empat lantai penuh rak-rak buku yang aku tak sepenuhnya paham apa yang ada di dalamnya. Di antara jejak-jejak kaki itu kita selipkan awal percakapan kita sebagai seorang rekan. Seiring berjalannya waktu, aku tak lebih menganggapmu sebagai seorang rekan. Ya, seperjuangan untuk empat tahun yang penuh lika-liku dan tentu berwarna.

Entah mengapa kehadiranmu adalah saat yang tepat. Kamu memenuhi ingatanku saat ia terasa benar-benar kosong. Bahkan saat ku sudah lama mengenalmu, aku belum merasakan apa-apa. Setelah kurasakan beberapa momen patah hati dan luka, kamu belum begitu memenuhi kepalaku. Kamu adalah saat yang tertepat sejauh ini. Bukan karena aku membutuhkan memikirkan seseorang. Tapi, kamu memenuhi pikiran dan ya hatiku saat aku benar-benar ingin memikirkanmu.

Sejauh aku mengenalmu, tak banyak yang bisa aku jelaskan. Cukup pertemuan singkat di antara bangku-bangku putih itu. Kadang aku menatapmu penuh lamat. Namun, aku segera membuang pikiranku yang semakin lama semakin penuh olehmu. Begitu terus sampai aku tak sadar semakin lama aku semakin memendam perasaan itu. Sendiri.

Aku terlalu sibuk dengan pikiranku tentangmu. Tanpa mau tahu apa yang ada di pikiranmu. Aku terlalu menikmati rindu-rindu yang menyambangi malam-malamku. Rindu tentangmu yang selalu datang saat langit menurunkan hujannya. Benar memang hujan adalah cara terbaik mendatangkan ingatan. Apalagi ingatan tentangmu yang menurutku segalanya perlu dikenang. Bahkan untuk hal kecil sekalipun.

Aku pikir aku semakin gila dengan pikiranku yang penuh tentangmu. Bodohnya aku yang sampai detik ini tak bernyali mengutarakannya. Tentu aku tak sebegitu bodoh. Aku begini karena ku nilai sikapmu padaku hanya begitu-begitu saja. Tak lebih dari seorang rekan. Berulangkali aku berniat mengutarakan. Namun, niat hanya sebatas niat yang berujung pengharapan kau akan merasakan apa yang aku rasakan.

'Kau harus berhenti'. Belakangan ini dalam hatiku berteriak kencang. Bukan karena ku sudah tak ada rasa. Hanya aku harus berhenti menyanggupi penat berjuang dalam diam sendiri. Mungkin lebih baik aku simpan dulu rapat-rapat perasaanku ini. Untuk suatu saat aku akan membukanya kembali atau membuangnya jikalau tak kutemukan cara untuk mengungkitnya lagi.

-Mbak Ami, di antara gema takbir dan sendu pagi, 2016/09/12-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar